Dongeng Sangkuriang dan Legenda Tangkuban Perahu – Dahulu kala, di tanah Pasundan — yang sekarang kita kenal sebagai Jawa Barat — hiduplah seorang putri yang bernama Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi tinggal di sebuah kerajaan yang makmur dan damai. Ia memiliki seorang pengikut setia yang selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Pengikut itu adalah seekor anjing yang sangat setia bernama Tumang.

Tumang bukanlah anjing biasa. Ia sebenarnya adalah jelmaan seorang dewa yang dikutuk menjadi hewan dan dibuang ke bumi . Namun, Dayang Sumbi tidak mengetahui hal itu.
Suatu hari, ketika Dayang Sumbi sedang menenun kain di berandanya, ia menjatuhkan alat tenunnya. Karena malas bangun, ia berkata dengan nada bercanda, “Siapa pun yang mau mengambilkan alat tenunku ini, aku akan menikah dengannya.”
Tiba-tiba, Tumang datang membawa alat tenun itu di mulutnya. Dayang Sumbi terkejut. Karena ia sudah terlanjur mengucapkan sumpah, ia pun harus menikah dengan Tumang .
Beberapa bulan kemudian, Dayang Sumbi melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan sehat. Bayi itu diberi nama Sangkuriang .
Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang cerdas, pemberani, dan sangat kuat. Ia sangat gemar berburu ke hutan. Setiap kali berburu, ia selalu ditemani oleh Tumang. Namun, Sangkuriang tidak pernah tahu bahwa Tumang adalah ayah kandungnya sendiri .
Kecelakaan di Hutan

Suatu hari, ketika Sangkuriang berusia sekitar sepuluh tahun, ia pergi berburu ke hutan bersama Tumang. Mereka mencari hewan buruan untuk dibawa pulang.
Di tengah hutan, Sangkuriang melihat seekor babi hutan besar. Babi itu berlari cepat sekali. Sangkuriang menyuruh Tumang untuk mengejar babi itu.
“Tumang! Kejar babi itu!” perintah Sangkuriang.
Namun, Tumang hanya diam saja. Ia tidak mau menuruti perintah Sangkuriang. Ternyata, Tumang mengenali bahwa babi hutan itu adalah Celeng Wayung Hyang, nenek dari Sangkuriang sendiri .
Sangkuriang sangat kesal. Ia merasa Tumang tidak berguna. Dalam kemarahannya, ia mengangkat panahnya untuk menakut-nakuti Tumang. Tetapi sial! Anak panah itu terlepas dan mengenai Tumang. Tumang pun terbunuh .
Sangkuriang sangat terkejut dan bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Karena tidak membawa hewan buruan, ia pun menyembelih tubuh Tumang dan mengambil hatinya. Hati itu dibawanya pulang kepada Dayang Sumbi .
Dayang Sumbi memasak dan memakan hati itu. Ia tidak tahu bahwa yang dimakannya adalah hati suaminya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Dayang Sumbi bertanya tentang Tumang. Sangkuriang pun menceritakan apa yang telah terjadi. Dayang Sumbi sangat terkejut dan marah. Ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang terbuat dari tempurung kelapa. Kepala Sangkuriang pun terluka dan berdarah .
Sangkuriang yang ketakutan dan sedih memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Ia berjalan tanpa arah, meninggalkan ibunya, dan meninggalkan segalanya .
Dayang Sumbi sangat menyesal. Ia telah mengusir anaknya sendiri. Ia pun berdoa setiap hari, memohon kepada Tuhan agar kelak dipertemukan kembali dengan anaknya. Karena kesungguhan doanya, Dayang Sumbi diberikan karunia berupa kecantikan abadi dan awet muda .
Pengembaraan Sangkuriang
Sangkuriang berjalan selama bertahun-tahun. Ia melewati hutan rimba, menyeberangi sungai deras, dan mendaki gunung-gunung tinggi. Ia belajar banyak hal dari alam. Ia bertemu dengan para pertapa dan orang-orang bijak yang mengajarinya ilmu dan kebijaksanaan .
Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, kuat, dan sakti. Ia memiliki kekuatan luar biasa. Ia bisa memanggil angin, menghentikan hujan, dan bahkan memerintah makhluk halus.
Namun, di dalam hatinya, selalu ada satu luka yang belum sembuh. Ia merindukan ibunya. Ia ingin kembali ke kampung halamannya dan meminta maaf.
Setelah dua belas tahun mengembara, Sangkuriang memutuskan untuk pulang. Ia kembali ke tanah Pasundan dengan harapan bisa bertemu kembali dengan ibunya .
Pertemuan yang Tak Terduga
Sesampainya di kampung halaman, Sangkuriang sangat terkejut. Tempat itu sudah banyak berubah. Kerajaan ayahnya sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah sebuah desa kecil di tepi hutan.
Sangkuriang bertanya kepada penduduk desa tentang keberadaan ibunya. Penduduk desa mengatakan bahwa Dayang Sumbi masih hidup. Ia sekarang tinggal di sebuah gubuk di tepi hutan, hidup sebagai seorang pertapa yang dihormati karena kebijaksanaannya.
Sangkuriang pun pergi ke gubuk itu. Ketika ia sampai, ia melihat seorang wanita yang masih cantik dan anggun. Wanita itu sedang menenun kain.
“Permisi, Nyai. Saya mencari seseorang bernama Dayang Sumbi,” kata Sangkuriang.
Wanita itu mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Sangkuriang. Ada sesuatu yang aneh. Jantung Sangkuriang berdebar kencang. Ia merasa… ada ikatan yang kuat dengan wanita ini.
“Sayalah Dayang Sumbi,” jawab wanita itu.
Sangkuriang terkejut. Ia tidak menyangka bahwa wanita cantik di depannya ini adalah ibunya sendiri. Dayang Sumbi juga terkejut. Ia tidak mengenali Sangkuriang karena sudah dua belas tahun berlalu. Sangkuriang telah berubah menjadi pemuda yang tampan dan gagah.
Namun, ada yang aneh. Keduanya tidak saling mengenali. Sangkuriang melihat Dayang Sumbi sebagai wanita yang cantik dan menawan. Dayang Sumbi melihat Sangkuriang sebagai pemuda yang gagah dan sopan.
Mereka pun berbicara panjang. Sangkuriang menceritakan pengembaraannya. Dayang Sumbi mendengarkan dengan penuh perhatian. Perlahan-lahan, benih-benih cinta tumbuh di hati mereka. Mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah ibu dan anak .
Rahasia yang Terbongkar
Suatu hari, Dayang Sumbi sedang duduk di beranda gubuknya. Ia memandang Sangkuriang yang sedang berlatih silat di halaman. Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
Di dahi Sangkuriang, ada bekas luka yang sangat ia kenal. Luka itu adalah luka yang dulu ia berikan ketika ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi.
Dayang Sumbi menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras dari matanya.
“Ya Tuhan… Ini tidak mungkin… Ini pasti Sangkuriang, anakku…” bisik Dayang Sumbi dengan suara gemetar.
Dayang Sumbi sangat terkejut dan sedih. Ia telah jatuh cinta kepada anaknya sendiri. Ia tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Ia harus menghentikannya.
Malam itu, Dayang Sumbi memanggil Sangkuriang. Dengan suara yang berat, ia berkata:
“Sangkuriang, aku harus memberitahumu sesuatu. Aku… aku adalah ibumu. Ibumu yang dulu mengusirmu pergi.”
Sangkuriang terkejut bukan main. Ia tidak percaya. Ia menatap Dayang Sumbi dengan mata membelalak.
“Tidak mungkin! Ibu saya sudah lama meninggal!” kata Sangkuriang.
“Lihat bekas luka di dahimu. Itu adalah luka yang kau dapatkan ketika aku memukul kepalamu dengan sendok nasi. Aku adalah Dayang Sumbi, ibumu,” kata Dayang Sumbi sambil menangis.
Sangkuriang terdiam. Ia menyentuh bekas luka di dahinya. Perlahan-lahan, ingatan masa kecilnya kembali. Ia ingat kejadian itu. Ia ingat ibunya yang menangis. Ia ingat dirinya yang diusir.
Namun, Sangkuriang tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia sudah terlanjur mencintai Dayang Sumbi. Ia tetap ingin menikahinya .
Permintaan yang Mustahil
Dayang Sumbi sangat sedih. Ia mencintai Sangkuriang sebagai seorang ibu, tetapi ia juga tahu bahwa cinta Sangkuriang kepadanya bukanlah cinta seorang anak kepada ibunya. Ia harus menghentikan ini.
Namun, Dayang Sumbi juga tidak tega menolak Sangkuriang secara langsung. Ia takut Sangkuriang akan marah dan melakukan hal-hal buruk. Akhirnya, Dayang Sumbi membuat sebuah permintaan yang mustahil. Ia berharap Sangkuriang tidak bisa memenuhinya, sehingga ia akan pergi dengan sendirinya.
“Sangkuriang,” kata Dayang Sumbi. “Jika engkau benar-benar mencintaiku, penuhi permintaanku. Bendunglah Sungai Citarum dan buatkan aku sebuah perahu besar untuk berlayar di atasnya. Dan semua itu harus selesai sebelum fajar menyingsing” .
Sangkuriang terdiam. Permintaan itu sangat sulit. Tetapi ia sangat mencintai Dayang Sumbi. Ia tidak ingin kehilangan wanita itu. Ia pun menyanggupi permintaan itu.
“Baik, Dayang Sumbi. Aku akan membendung sungai dan membuat perahu itu sebelum fajar,” kata Sangkuriang.
Pekerjaan Besar Sangkuriang
Malam itu, Sangkuriang memanggil semua kekuatannya. Ia memanggil makhluk-makhluk halus, jin, dan roh-roh hutan untuk membantunya .
“Dengarkan aku! Aku perlu bantuan kalian semua! Kita harus membendung Sungai Citarum dan membuat perahu besar sebelum fajar menyingsing!” perintah Sangkuriang.
Makhluk-makhluk halus itu pun bekerja keras. Mereka menggali tanah, memindahkan batu-batu besar, dan membendung sungai. Sangkuriang sendiri memimpin pekerjaan itu. Ia bekerja tanpa lelah.
Tanah digali. Batu-batu ditumpuk. Air sungai dibendung. Perlahan-lahan, sebuah danau besar mulai terbentuk. Sangkuriang juga mulai membuat perahu besar dari kayu pohon raksasa.
Pekerjaan itu hampir selesai. Danau sudah terbentuk. Perahu sudah hampir jadi. Tinggal sedikit lagi.
Namun, Dayang Sumbi tidak tinggal diam. Ia melihat dari kejauhan bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya. Ia panik. Ia tidak bisa membiarkan Sangkuriang berhasil.
Dayang Sumbi pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar niat Sangkuriang tidak terlaksana. Ia lalu membentangkan kain sutra merah miliknya di atas bukit di sebelah timur. Kain itu memantulkan cahaya merah, seolah-olah fajar telah menyingsing .
Sementara itu, ia juga memerintahkan dayang-dayangnya untuk menumbuk padi dan menaburkan serbuknya ke langit. Serbuk padi itu terlihat seperti cahaya pagi.
Kemarahan Sangkuriang
Sangkuriang sedang menyelesaikan perahunya. Ia tinggal sedikit lagi. Tiba-tiba, ia melihat langit di ufuk timur mulai terang. Burung-burung mulai berkicau. Ayam-ayam mulai berkokok.
“Fajar sudah tiba! Aku gagal!” teriak Sangkuriang.
Sangkuriang sangat marah. Ia tahu bahwa ini adalah tipuan Dayang Sumbi. Ia merasa dikhianati. Dengan kekuatan yang luar biasa, ia menjebol bendungan yang telah dibuatnya. Air pun mengalir deras membanjiri lembah .
Kemudian, ia menendang perahu yang hampir selesai itu. Perahu besar itu terangkat ke udara. Ia berputar-putar di langit, lalu jatuh tertelungkup di atas danau yang baru saja dibuat. Perahu itu berubah menjadi sebuah gunung yang sangat besar. Gunung itu dinamakan Tangkuban Perahu, yang artinya “perahu yang tertelungkup” .
Sangkuriang juga sangat marah kepada Dayang Sumbi. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa cintanya ditolak. Dengan hati yang hancur, Sangkuriang pergi meninggalkan tempat itu. Ia menghilang ke dalam hutan, tidak pernah kembali lagi .
Dayang Sumbi sangat sedih. Ia telah kehilangan anaknya untuk kedua kalinya. Ia pun kembali ke gubuknya dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai pertapa.
Begitulah dongeng Tangkuban Perahu dan Sangkuriang. Seperti hanya Legenda Malin Kundang, legenda Sangkuriang dan Tangkuban Perahu bukanlah sejarah nyata. Sangkuriang dan Dayang Sumbi tidak pernah ada di dunia nyata. Tetapi cerita ini dengan cara yang unik merekam aktivitas geologi besar yang terjadi di wilayah Bandung puluhan hingga ratusan ribu tahun yang lalu. Ini adalah produk dari “memori kolektif” masyarakat Sunda kuno, yang menggabungkan pengamatan terhadap alam dengan imajinasi, yang diturunkan dari generasi ke generasi hingga hari ini.